Satu-Satu

satu-satu

satu-satu

Sudah lama saya tidak lagi meluangkan waktu untuk sekedar menceritakan hal yang menurut saya layak untuk dibagikan. Satu-satu terlewati sudah pos-pos kecil dalam hidup saya. Jika dulu blog ini berisikan tentang bagaimana galaunya perasaan saya demi memperjuangkan perasaan, kini, saya sudah menjadi pemenang di hati seseorang 🙂 (dan saya putuskan, ada baiknya menghapus hal buruk yang membuat saya terkenang-kenang bimbang). Ada banyak cerita yang ingin saya tulis, tetapi rasanya saya tidak mau lagi berkeluh kesah di blog ini. Niat saya, blog ini akan menjadi wadah untuk berbagi ilmu dan kebaikan, walaupun saya ini banyak sekali kesalahannya, karena kasih sayang Allah lah hampir tidak banyak yang mengetahui satu-satu khilaf apa saja yang telah saya buat.

Detik-detik berdetak melingkari 1 putaran 24 jam. Saya hampir menyelesaikan Tugas Akhir. Semakin dekat pula dengan hari penentuan pernikahan saya dengan laki-laki itu. Kapan-kapanlah saya ceritakan, bagaimana akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan hidup ini berdua. Mengamalkan sunnah nabi, membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah, pun ingin sedikit berani menjadikannya sebagai ladang dakwah bagi kami yang rasanya masih secuil mengerti ilmu agama, apalagi mengamalkannya.

Satu-satu melangkah, menatah diri yang terbiasa manja untuk berjalan tanpa menyender ke belakang, rebah ke kanan, mencong ke kiri, atau tersungkur ke depan. Jalan tegak, menatap lurus ke depan, memiliki visi misi hidup yang jelas. Langkah yang pasti menjadi perempuan yang mandiri, belajar menjadi istri dan ibu bagi keturunan kelak. Seolah gampang tapi saya yakin satu-satu urat pikir pun pasti tegang. Sekuat usaha melakoni sabar dan syukur yang mudah diucap tak nikmat dikecap.

source pict: here