Menikah Itu Pun Ujian Hidup

menikah

menikah adalah salah satu ujian kehidupan

Menikah adalah salah satu agenda hidup yang diidam-idamkan manusia normal. Entah itu ingin disegerakan atau ditunda sampai dirasa waktunya sudah tepat dan mapan. Kita sudah banyak tahu lah ya tentang indahnya pernikahan, penyempurna din kita, penyelamat syahwat kita, sumber pahala kebaikan yang berlimpah.

Menikah pun bisa menjadi ujian, menjadi fitnah bagi kita. Hal ini  menjadi penyeimbang bagi kita, agar tidak terlalu bahagia sehingga kurang mawas diri. Bagi saya menikah itu sama dengan menerima amanah jabatan tertentu. Jika seseorang menangis ketika diamanahi sebuah jabatan karena takutnya ia dengan pertanggungjawabannya kelak. Maka ketika ia menikah, seharusnya ia menangis lebih keras lagi.

Menikah adalah penyatuan dua jadwal hidup, sehingga harus merancang ulang lagi aktifitas kita sehari-hari agar tidak bentrok dengan pasangan. Jadilah kita yang ketika masih lajang bisa beribadah selama dan semau kita, sudah tidak bisa lagi begitu di saat menikah. Sehingga pada awal menikah ada toleransi ibadah yang harus kita lakukan sampai mencapai kondisi yang pas di hati kita pun tidak memberatkan pasangan.

Sebelum menikah (ini khusus berbicara pada perempuan), mungkin calon suami sudah terbiasa bangun sendiri, beribadah tanpa harus diingatkan. Maka ketika menikah jangan diharap akan selalu begitu. Mereka pun sama rasa dengan kita, sudah bertambah job baru jadi energi yang dikeluarkan jadi double. Sehingga tanggung jawab kita salah satunya adalah membangunkan suami, mengingatkan dia akan ibadah rutin dan itu baiknya kita jadikan sebuah keharusan.

Jika si istri malas bangun, malas beribadah, atau rusak imannya akan berimbas pula pada suaminya. Tak percaya? silahkan coba saja sendiri ya :). Itulah makanya di dalam Al-Quran istri juga dikategorikan sebagai fitnah. Mungkin sudah pernah kita mendengar suami rela meninggalkan shalatnya karena istri memeras duit suaminya setiap hari. Demi mengejar lembaran rupiah, ia rela tumpulkan imannya. Na’udzubillah sebegitu dahsyatnya fitnah seorang istri.

Suami pun bisa menjadi fitnah bagi para istri. Saya pernah mendengar cerita seorang suami yang menyuruh istrinya mendatangi dukun untuk meminta uang banyak. Sungguh suami yang tega sekali. Mendatangi dukun… bukankah shalat tak diterima 40 hari? Si istri mau saja melakukannya demi menyenangkan suami yang pemaksa, padahal si istri jebolan pesantren. Subhanallah.

Menikah itu ya ibadah pun bisa menjadi fitnah dunia. Karena itu berhati-hati memilih pasangan itu amat sangat penting. Yang paling utama adalah melihat pemahaman dan pengamalan agamanya. Itulah yang terpenting. Ini berlaku untuk calon suami dan istri. Oo… walaupun ada cela, ada kemauan yang kuat untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Itu juga yang utama.

Jadi di saat kita berbangga sudah menikah, ingatkan diri akankah iman kita, ibadah kita akan tetap terjaga baik, Alhamdulillah kalau meningkat bagaimana kalau terjun bebas grafiknya. Apalagi nanti kalau sudah memiliki anak, akankah dapat kita jaga dengan baik pula ibadah kita. Kita mengharapkan keberkahan dalam pernikahan kita. mengharapkan keberkahan yang datang dari pasangan dan keturunan kita. Semoga Allah melimpahkan pernikahan yang berkah pada kita. Amin ya robbal’alamin.

Tak Usah Dibesar-Besarkan

informasi

tahan diri dari membesar-besarkan masalah

Mari sejenak kita merenung pada satu hal ini saja yakni membesar-besarkan masalah. Sudah biasa hal ini dikaitkan dengan kabar buruk. Tetapi yang saya maksud bukan itu, sebaliknya yang saya maksud di sini adalah kabar baik, lebih tepatnya tentang pasangan hidup.

Urusan jodoh adalah urusan yang sensitif. Ada sekian banyak urusan di dunia ini tetapi seringkali yang membuat seseorang menjadi hilang kestabilannya adalah ketika berurusan dengan pencarian atau penemuan jodoh. Walaupun sudah dikata bahwa jodoh itu di tangan Tuhan tetap saja urusan yang satu ini spesial untuk dihadapi.

Saya ingin mengkritisi tentang orang-orang yang sudah bertemu pasangan hidupnya yang agak kurang menenggang menurut saya dengan mereka yang masih belum. Tipikal orang-orang yang heboh dan membesar-besarkan momen disandingkan dengan pasangan hidupnya. Menyebar foto-foto atau status mesra di publik. Sekali, dua kali cukup wajarlah ya, kan khabar gembira selayaknya memang diumumkan sebagai bentuk syukur akan ni’mat Allah. Maka lain soal kalau keseringan. Seolah-olah jadinya mengejek orang-orang yang masih belum berjodoh. Jika ada yang beralasan ‘aah salah sendiri kenapa hatinya kotor, makanya kesal dengan kebahagiaan orang lain’. Mari saya ingatkan kembali tentang perkara jodoh merupakan perusak kestabilan seseorang yang normal butuh pasangan hidup. Ada kalanya saat hatinya melemah, rasa sedih mungkin sebal pun muncul. Sosial media memang terserah kita untuk diapakan, pun bagi mereka juga begitu. Dan ternyata khabar baik yang semestinya menjadi pengumpul do’a kebaikan bagi kita, berubah jadi pengumpul sejumlah celaan dan kutukan karena salah kita sendiri yang terlalu membesar-besarkan masalah kebahagiaan.

Nah, begitu pula saat sudah dikaruniai anak. Memang sih niat kita baik untuk menyebarkan lagi-lagi khabar baik, ni’mat yang Allah beri. Lagi-lagi tak usah terlalu dibesar-besarkan. Jika ingin mengabarkan kepada pasangan kita ataukah mertua ataukah famili lainnya yang takdir Allah harus berpisah jauh dari kita, alangkah baiknya lewat pesan pribadi dan sudah banyak fasilitas demikian di berbagai sosial media. Ada hati-hati orang yang kita jaga. Ada kalanya orang-orang membuka ‘beranda’ sosial media mereka berharap mendapat kesejukan, pelepas penat. Anggap saja seperti di dunia nyata, orang duduk-duduk di beranda rumah mereka setelah seharian letih bekerja kemudian kita datang memamerkan apa-apa saja yang kita punya. Satu kali, dua kali, sampai batas sabar masih belum masalah. Berkian kali, mungkin usiran dari mereka yang kita terima. Bayangkan sendiri, itu pula yang terjadi di ‘beranda’ sosial media.

Akhir cerita, memanglah sederhana itu dibutuhkan, sikap pertengahan mestinya menjadi keharusan. Tak perlu membesar-besarkan perkara yang buruk pun yang baik. Kita memohon petunjuk Allah semoga senantiasa kita dituntun untuk tidak bersikap berlebihan dan menjadi ummat Rasulullah yang pertengahan. Rabbanaghfirlanaa dzunuubanaa wa isrofanaa fii amrina wa tsabbit aqdamanaa wa tawaffanaa muslimin. Amin.

Tak Terlalu Memiliki

Kita tak bisa 'tuk terlalu memiliki

Kita tak bisa ‘tuk terlalu memiliki

Berawal dari sebuah pesan singkat yang masul lewat aplikasi What’s Up, “Suami ibarat tamu bagi istrinya. dia akan datang sejenak kemudian pergi. dan kembali ke rumahnya di surga dimana istrinya yang sebenarnya telah menunggu.” Tulisan ini bukan bercerita tentang ketakutan saya tidak kekal memiliki suami sampai akhirat sana. Ini hanya satu contoh dari hal yang tak terlalu memiliki.

Pagi ini, satu contoh lagi masuk dalam pemahaman saya. “Jika tak terlalu memiliki maka kita tak pantas berharap lebih.” Pada hal apapun itu, pada diri-diri yang sudah kita anggap erat, pada rumah yang kita anggap akrab, kita tak boleh mestinya meletak harap terlalu besar, sebesar hal-hal yang telah atau akan kita lakukan untuknya.

Berakhir pada sebuah kesimpulan, untuk yang tak terlalu memiliki, maka sisa kan sebidang lahan untuk melepas pergi. Sekian..

Sumber gambar: di sini