Tak Usah Dibesar-Besarkan

informasi

tahan diri dari membesar-besarkan masalah

Mari sejenak kita merenung pada satu hal ini saja yakni membesar-besarkan masalah. Sudah biasa hal ini dikaitkan dengan kabar buruk. Tetapi yang saya maksud bukan itu, sebaliknya yang saya maksud di sini adalah kabar baik, lebih tepatnya tentang pasangan hidup.

Urusan jodoh adalah urusan yang sensitif. Ada sekian banyak urusan di dunia ini tetapi seringkali yang membuat seseorang menjadi hilang kestabilannya adalah ketika berurusan dengan pencarian atau penemuan jodoh. Walaupun sudah dikata bahwa jodoh itu di tangan Tuhan tetap saja urusan yang satu ini spesial untuk dihadapi.

Saya ingin mengkritisi tentang orang-orang yang sudah bertemu pasangan hidupnya yang agak kurang menenggang menurut saya dengan mereka yang masih belum. Tipikal orang-orang yang heboh dan membesar-besarkan momen disandingkan dengan pasangan hidupnya. Menyebar foto-foto atau status mesra di publik. Sekali, dua kali cukup wajarlah ya, kan khabar gembira selayaknya memang diumumkan sebagai bentuk syukur akan ni’mat Allah. Maka lain soal kalau keseringan. Seolah-olah jadinya mengejek orang-orang yang masih belum berjodoh. Jika ada yang beralasan ‘aah salah sendiri kenapa hatinya kotor, makanya kesal dengan kebahagiaan orang lain’. Mari saya ingatkan kembali tentang perkara jodoh merupakan perusak kestabilan seseorang yang normal butuh pasangan hidup. Ada kalanya saat hatinya melemah, rasa sedih mungkin sebal pun muncul. Sosial media memang terserah kita untuk diapakan, pun bagi mereka juga begitu. Dan ternyata khabar baik yang semestinya menjadi pengumpul do’a kebaikan bagi kita, berubah jadi pengumpul sejumlah celaan dan kutukan karena salah kita sendiri yang terlalu membesar-besarkan masalah kebahagiaan.

Nah, begitu pula saat sudah dikaruniai anak. Memang sih niat kita baik untuk menyebarkan lagi-lagi khabar baik, ni’mat yang Allah beri. Lagi-lagi tak usah terlalu dibesar-besarkan. Jika ingin mengabarkan kepada pasangan kita ataukah mertua ataukah famili lainnya yang takdir Allah harus berpisah jauh dari kita, alangkah baiknya lewat pesan pribadi dan sudah banyak fasilitas demikian di berbagai sosial media. Ada hati-hati orang yang kita jaga. Ada kalanya orang-orang membuka ‘beranda’ sosial media mereka berharap mendapat kesejukan, pelepas penat. Anggap saja seperti di dunia nyata, orang duduk-duduk di beranda rumah mereka setelah seharian letih bekerja kemudian kita datang memamerkan apa-apa saja yang kita punya. Satu kali, dua kali, sampai batas sabar masih belum masalah. Berkian kali, mungkin usiran dari mereka yang kita terima. Bayangkan sendiri, itu pula yang terjadi di ‘beranda’ sosial media.

Akhir cerita, memanglah sederhana itu dibutuhkan, sikap pertengahan mestinya menjadi keharusan. Tak perlu membesar-besarkan perkara yang buruk pun yang baik. Kita memohon petunjuk Allah semoga senantiasa kita dituntun untuk tidak bersikap berlebihan dan menjadi ummat Rasulullah yang pertengahan. Rabbanaghfirlanaa dzunuubanaa wa isrofanaa fii amrina wa tsabbit aqdamanaa wa tawaffanaa muslimin. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s