Menjadi Produktif

berkarya selagi bisa

berkarya selagi bisa

Kita harus menyadari dengan sungguh-sungguh, bahwasanya hidup kita tidak akan cukup untuk memenuhi tugas yang seharusnya kita lakukan. Ingatlah ini, disaat kita merasa bosan dan tidak tentu dengan apa yang hendak dikerjakan. Jangan terpaku hanya pada satu pintu karena kita harus memasuki pintu-pintu yang lainnya. Kecuali, jika kita memilih untuk menjadi orang yang senangnya menganggur atau tipikal yang cepat puas.

Menjadi sosok yang produktif disaat lingkungan pasif memang tidak mudah, akan tetapi menjadi pilihan yang harus dilaksanakan. Mungkin hanya pada saat itulah waktu yang kita miliki untuk belajar lebih banyak hal baru sebelum datangnya masa sibuk yang tak tentu.

Ada banyak dunia baru yang butuh digali. Siapa tahu kita akan menemukan skill yang tak disangka. Ada beberapa sisi yang butuh dioptimasi, menggali lebih dalam dari kemampuan yang kita kira standar… yaaah sekedar biasa saja, ataukah amatir.

Karya… karya… kita butuh karya untuk menjadi berarti sebagai manusia. Karya adalah bukti bahwa kita telah melakukan sesuatu yang berguna, hal baru yang bernilai.

Hidup ini tak cukup dengan satu karya. Apalagi jika karya yang berasal dari peluh kita sendiri itu belum cukup kekal nilainya sampai di akhirat sana. Butuh banyak… dengan itulah akan semakin banyak pula kemungkinan karya yang bernilai tinggi.

Apapun hal baru dan cukup menantang untuk dicoba, lakukanlah dengan seikhlas dan sesenang hati. Bismillah, semoga Allah berkati…

on my desk….

pict: here

Bicara Rasa

Suatu hari. Kita akan menertawakan masa lalu di mana kita begitu naif dengan perasaan kita sendiri. Kita selalu merasa… merasa… dan merasa bahwa kita adalah manusia yang ter- ini atau ter-itu ketika kita merasa sedih. Well, tidak semua karena di bumi ini hanya orang yang terlalu perasa yang berprilaku konyol seperti itu, tak menampik bahwa diriku adakalanya juga begitu.

OZaldpn

                                    kita dan rasa

Obat dari sifat perasa adalah waktu. Waktu yang lambat laun akan membuat rasa menjadi basi dengan beriringan melangkah disisi sang waktu. Jiwa perasa akan menyeret orang lain untuk ikut merasakan hal yang sama dengan yang dialaminya. Mereka akan bertingkah semaunya asalkan ada dukungan yang menguatkan kebenaran versi miliknya. Tetapi waktu tak pernah memihak. Ia tetap berjalan lurus dengan mata yang buta, telinga yang tuli, dan bibir yang bisu. Sehingga pada akhirnya jiwa yang perasa ini hanya akan dibungkam oleh kenyataan semacam logika pahit yang harus ditelan cepat-cepat seperti tablet pereda sakit kepala. Pahit di awal menyembuhkan sesudahnya.

“Perasaan itu tidak akan selamanya sama. Oleh karena itu jangan terlalu perasa. Tidak baik. Berlebihan itu tidak akan pernah baik.”

On my desk…

pict: here