Bicara Rasa

Suatu hari. Kita akan menertawakan masa lalu di mana kita begitu naif dengan perasaan kita sendiri. Kita selalu merasa… merasa… dan merasa bahwa kita adalah manusia yang ter- ini atau ter-itu ketika kita merasa sedih. Well, tidak semua karena di bumi ini hanya orang yang terlalu perasa yang berprilaku konyol seperti itu, tak menampik bahwa diriku adakalanya juga begitu.

OZaldpn

                                    kita dan rasa

Obat dari sifat perasa adalah waktu. Waktu yang lambat laun akan membuat rasa menjadi basi dengan beriringan melangkah disisi sang waktu. Jiwa perasa akan menyeret orang lain untuk ikut merasakan hal yang sama dengan yang dialaminya. Mereka akan bertingkah semaunya asalkan ada dukungan yang menguatkan kebenaran versi miliknya. Tetapi waktu tak pernah memihak. Ia tetap berjalan lurus dengan mata yang buta, telinga yang tuli, dan bibir yang bisu. Sehingga pada akhirnya jiwa yang perasa ini hanya akan dibungkam oleh kenyataan semacam logika pahit yang harus ditelan cepat-cepat seperti tablet pereda sakit kepala. Pahit di awal menyembuhkan sesudahnya.

“Perasaan itu tidak akan selamanya sama. Oleh karena itu jangan terlalu perasa. Tidak baik. Berlebihan itu tidak akan pernah baik.”

On my desk…

pict: here

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s