Berhenti Belajar = Mati!!!

Rasanya kok hidup saya ini begini-begini saja. Bawaannya kalo bangun tidur itu nge-blur abis….. ni hari mau ngapain aja. Rutinitas sehari-hari yang rasanya membosankan ini berdampak buruk sama suami yang sering kena sundut amukan saya. Padahal niat suami ngajakin bercanda buat nunjukin rasa sayang (Maaf ya Bang).

Kalau sudah begini jadi gak enak hati, suami jadinya ngerjain sesuatu serba sendiri demi meDESSNichijou_01v2_1080BDFLACUnderwater-Commie_1B4E90BCmkv_snapshot_0612_20130709_230132_zpsbb7663a8kaichou-wa-maid-sama-ep-24-2-1024x576nenggang istrinya yang lagi ngambek. Alhamdulillah ya Allah suami saya tidak gampang ngambekan seperti saya, kalau kita sesifat ampun sudah perabotan gak pada tahan umurnya sampai seminggu karena udah masuk tong sampah gegara dibantingin jamaah.

Kebosanan ini juga merembet kepada amal yaumiyah. Ya Allah kenapa begini???

Tadi pagi sebelum berangkat kerja saya sempatkan masuk ke ruang shalat. Di dalamnya memang sengaja saya taruh lemari buku. Teringat akan buku self help semasa kuliah yang saya beli saat galau dengan kuliah dan percintaan ecieeeehhh….

ZZZeeeepppp…! Mendadak ada feel yang menelikung hati saya. Ya Allah kapan ya terakhir kali saya sempetin baca buku serius? Kapan terakhir kali saya membaca dengan khusyu’ penuh kehausan akan ilmu? Kapan terakhir kali saya nyetabiloin kalimat di buku dengan warna kuning? Kapan terakhir kali jidat saya melintir mikirin korelasi teori-teori yang saya baca dengan realita? Hikzz sudah lama bingit rasanya jadi gak bisa ingat lagi terakhir kali kapan. Saya jadi merasa malu-maluin di biodata nulisnya hobi membaca. Baca sih ada tapi nyempetin baca berita online sama resep masakan. Yaaah dimana asiknya sebenarnya, karena baca buku atau kitab itu ada ademnya tersendiri.

Saya bertekad pagi ini memulai kembali baca buku rutin tiap hari. Semoga berefek kepada aktifitas harian lainnya jadi kerasa lebih asik. Semoga suami tambah sayang sama istrinya yang udah gak bentar-bentar bad mood. Paling utama sekali adalah semoga tambah semangat menabung amal baik. Niatkan ibadah dan menambah semangat beribadah, Insya Allah.

Menghentikan aktifitas membaca artinya kita tergolong orang yang berhenti belajar dan benarlah bahwStudyingJapaneseKidsAnime-5120-1280x800asanya berhenti belajar sama artinya dengan kematian karena kematian adalah pemutus nikmat belajar. Kematian adalah garis awal dimana kita akan mempertanggungjawabkan apa yang telah kita pelajari semasa hidup.

Ayok yang senasib sama saya pada wake up. Dimulai dari buku yang bikin kamu sumringah bangun di pagi hari. Bacaannya yang positif ya… moga berkah :). Amin…

Menang-Menang

Capture

Kita telah menjadi pemenang, akhirnya…

Kita tidak akan tahu dengan siapa kita akan berjodoh. Namun, kita tidak bisa pula menepis perasaan kepada seseorang yang datang menghampiri kita. Itulah hidup… mencintai… dicintai… senantiasa berputar sedemikian. Saya pun pernah begitu menyukai seseorang, saya berjuang dengan perasaan itu. Dan akhirnya saya menyadari tidak menemukan kebahagiaan dan balasan yang sama.

Ada saat dimana saya begitu marah dengan orang yang saya sukai karena merasa dia berhati dingin dan kurang lelaki. Saya sering menangis beriringan dengan hujan, pikiran saya berkabut dan saya merasa menjadi orang yang paling bebal sedunia. Saya merasa rendah diri karena tidak seperti saingan saya yang lain, tapi entah kenapa saya tetap kukuh melawan pertanda dari langit.

Tiap langkah yang mendekatkan saya kepadanya selalu diselingi sayatan di hati. Saya berusaha sabar dan optimis, kebahagiaan akan datang pada akhirnya. Namun tak semudah di angan. Nyatanya, pikiran dibuatnya lebih kacau, hati tak tenang, selalu dicemaskan dengan hal yang remeh-temeh. Kenapa mencintai begitu menyakitkan??? Saya putuskan pada akhirnya menerima bisikan langit.

Walaupun berat, saya palingkan hati yang sudah dipenuhi oleh namanya. Saya hapus paksa dengan air mata. Kadang disaat percik api terpantik di hati saya, ada bara kebencian memerah yang kemudian meredup melingkupi bayangannya. Saat dimana memori kelabu berarak diingatan ini. Untuk sesaat kan saya biarkan toh pada akhirnya desiran maaf yang halus memadamkan bara itu kembali.

Malam-malam yang dulu begitu menyiksa dirubung tanya, “Akankah saya bertemu dia besok pagi?”, “Bagaimanakah reaksi dia saat pertemuan kami, biasa sajakah atau menikmatinya?”, “Apakah kami bisa bercakap lebih lama dari sebelumnya ?” Kini… tidak akan pernah ada lagi. Dia sudah tergantikan dengan sosok baru yang saya pun tidak percaya bisa mencintainya dengan mudahnya. Saya lega, tidak harus melulu bersikap sok kuat dan berwajah tidak terluka.broken-heart-qoutes-broken-hearts-31855169-489-318

Dari dulu saya ingin ditanya, apakah saya tidak apa-apa?, adakah yang sakit?, tetapi dulu saya menganggap itulah kelemahan wanita yang menyebalkan, nyatanya itu memang bawaan kejiwaan Hawa. Saya luangkan waktu sekian menit untuk menulis ini karena terkait dengan dia di masa lampau. Kabar telah tersiar, dia telah menikah dengan seorang wanita baik-baik. Semoga berkah Ilahi meliputi mempelai.

Walaupun ada dengking teredam di hati saya. Yah… anggaplah semacam godaan Iblis untuk mengesalkan saya kenapa kita tidak satu padahal dulu kita sempat punya kebersamaan yang bisa dikata menyenangkan. Hadir pula tiupan suara mengejek  dan mencibir bahwa saya telah kalah sedangkan dia telah menjadi seorang pemenang.

Tapi… kita dicipta bukan ‘tuk bersama karena takdir sudah tersurat sebelum denyut nadi pertama. Sebenarnya perasaan tentang dia tak lagi pantas dikenang. Karna yang terlahir hanyalah perasaan sedih dan bodoh. Kadang rasanya gatal ingin tahu bagaimana kabarnya setelah sekian lama tanpa temu… tanpa sapa… tanpa tanya…

Ah… ternyata butuh waktu sedikit lama untuk lupa…Natalie-and-Asher-wedding-silhouette-272x300

Sekarang, saya sudah memiliki cerita baru dalam hidup, lembaran kosong yang mungkin pernah direncanakan untuk menuliskan namanya di masa depan tapi… ada nama lain saat ini yang diamanahkan pada saya. Jemari ini telah direkatkan oleh Tuhan dijemari yang lebih baik dan nyata. Saya dan dia (yang di masa lalu) sebenarnya telah berdiri di posisi menang-menang. Kami telah menduduki takdir kami masing-masing, tinggal pilihan berikutnya yang akan menentukan kami akan tetap bahagia atau sebaliknya.

Sekali lagi ‘Selamat’ untuk kedua mempelai. Barokallahulakuma.

Pict: 1, 2, & 3

Lama Vakum

rasanya sudah lama sekali

rasanya sudah lama sekali….

Bismillah.. Rasanya sudah lama sekali vakum dari blog. Baik yang WordPress maupun Blogspot. Saya sangat menyadari bahwa itu murni akibat kemalasan saya dalam menulis. Saya terlalu disibukkan dengan hal-hal baru dalam hidup, hal baru setelah memasuki dunia kerja dan pernikahan, well apakah saya sudah terbiasa sehingga akhirnya saya putuskan kembali untuk menulis??? hmmm tidak juga. Saya pikir ini lebih karena rasa bosan yang menumpuk. Rasa bosan yang disebabkan karena hidup yang dirasa berjalan begitu saja tanpa ada hingar bingar atau semacam euforia yang meletup seperti sebelumnya.

Dunia kerja itu membosankan jika tak ada kejelasan target yang harus dicapai. Belum lagi jika yang dikerjakan disekitar itu melulu yang rasanya tidak membuat otak berkembang. Ah, ada satu hal lagi, deadline adalah hal yang membuat kita produktif ditambah lagi dengan adanya agenda evaluasi yang siap-siap bikin kita babak belur. Bayangkanlah diri kita berada di masa-masa penyelesaian Tugas Akhir. Setiap menit itu harganya mahal, setiap ibadah yang dilakukan adalah penguatan akan ikhtiar. Hidup menjadi begitu dramatis saat kita berhasil menyelesaikannya walaupun harus ngos-ngosan, bertanggang semalaman sampai mata perih dan memelas minta ditidurkan. Ah, indahnya masa itu.

Pernikahan itu membuat lelah jika semua urusan carut marut disebabkan berbagai macam tangan ikutan mengobok-obok air yang diarungi oleh biduk rumah tangga kita, dan saya sadari itu bahwa hari ini masihlah secuil badai, sekilas asap yang menyelusup dalam kehidupan kami. Kian hari kian lebih apalagi kalau kami ingin maju, maunya lebih baik lagi.

Saya pun mulai sadar bahwa perangai negatif kita, kebiasaaan buruk kita, sedini apapun itu harus segera dibabat. Mana ada amanah yang akan bertambah ringan? Semakin bertambahnya usia maka amanah pun bertambah ceklisnya satu per satu , sekuat apapun kita menolaknya yah bahkan berpura-pura tidak menyadari pun tetap amanah itu akan menimpuki kepala kita. Kondisi dimana diri tak siap menerima itulah racun diri. Pelan-pelan merayap dan mencekik kita sampai kesulitan bernapas.

Manusia itu bebal, dapat dirasakan saat momen-momen tertentu yang kau lewati dalam hidup. Tak kan ku bilang kawan seperti apakah bebal itu, karena bisa dirasakan sendiri tak usah payah tuk diucap. Sejauh mana bebalmu maka sejauh itu pula usahamu harus diperkeras.

Hmmm… lega sudah… setidaknya meracik kata-kata seperti menenggak herbal pahit tapi menyembuhkan. Tulisan mungkin tak selaras dengan perilaku kita, tetapi dengan menulis… mungkin saat itu nurani kita mengambil peran membiarkan kebebalan kita tak sadarkan diri sesaat.

#lostInTime

pict: here

Target Baru

Di minggu dan bulan ketiga Hijriah, Rabiul; Awwal 1436 H. Di minggu kedua dan bulan pertama tahun 2015 Masehi. Ada satu niat yang tiba-tiba muncul dan meremas-remas hati saya. Sebuah target mengkhatamkan buku-buku Islam lebih banyak lagi, terutama kitab-kitab ulama klasik. Sehari sebelumnya saya sibuk meng-kepo FB kartun muslim B’Douin. Ada sebuah gambar yang menampar wajah saya. Dalam kartun tersebut diceritakan seorang suami yang demi memuaskan pertanyaan istrinya mengenai sains umum, dengan segenap tenaga dan perhatian menelaah dengan begitu dalam dan detail setiap referensi yang bisa didapat. Sedangkan ketika sang istri menanyakan tentang persoalan keislaman si suami dengan santai hanya cukup mengetikkan kata kuncinya di Google.

Tanpa disadari saya pun sering melakukan hal tersebut, Seolah urusan umum semisal sains dan perihal lainnya memang sangat nikmat untuk ditelaah dengan dalam sedangkan urusan agama, saya menyampingkan sikap objektif saya. Apakah saya pun sudah tertular paradigma bahwa masalah keislaman ‘kurang menarik’ karena tidak ilmiah dalam penyajiannya? bisa jadi. Astagfirullah betapa dangkalnya ilmu ini, dan betapa jahilnya saya. Jika saya menelan bulat-bulat kesan yang demikian. Ada rasa sesal yang membebat hati saya, mau-maunya saya bertindak seperti itu untuk agama saya sendiri.

Dan saya pun ingin mengenal mereka-mereka, para ilmuwan Islam yang tersaput kabut ketidakpedulian saya selama ini. Mungkin gagasan dan bahasan mereka lebih brilian, cuma saya selama ini tidak tahu dan mau tahu pula. Karena itu saya ingin mencari tahu. Sebelum semua terlambat dan saya hanya berani berenang di kolam dangkal. Tetap bodoh…tetap jahil…tetap tak berilmu tetapi merasa tahu ini itu.

Peduli? Tunggu Dulu!

peduli atau bergunjing?

peduli atau bergunjing?

Ada kebiasaan yang beredar di dalam pergaulan kita yang dirasa baik ternyata tidak juga pada beberapa kasus tertentu. Apa yang akan saya bicarakan pada postingan hari ini adalah mengenai satu kata ‘Peduli’.

Kata peduli erat kaitannya dengan keluarga. Salah satu bentuk hubungan yang erat di dalam keluarga adalah kepedulian yang tinggi antar sesama anggota keluarga. Sehingga dari kepedulian lahirlah sikap sama sakit sama senang.

Biasanya kalau ada kabar gembira kita pun bersemangat untuk membagikannya karena atas rasa peduli. Bagaimana kalau kabar buruk? tentu saja dong. Kalau kabar keburukan? Nah, soal ini menurut saya perlakuannya berbeda.

Bagi saya yang mempunyai pagar privasi yang cukup tinggi. Kabar keburukan berbeda perlakuannya saat anggota keluarga masih hanya anggota sedarah dengan ketika sudah bercampur dengan anggota keluarga yang diakibatkan pernikahan. Simpelnya begini, saat hanya ada kita, adik, dan kakak ketiganya masih melajang. Soal keburukan masing-masing bisa saling diceritakan sebagai rasa peduli dan sayang dengan saudara kita, akhirnya kita bisa bersama saling menasehati untuk perubahan yang lebih baik.Tetapi saat yang tiga ini sudah berkeluarga, misalkan kita melihat keburukan pada keluarga si adik, menurut  saya kita tidak berhak memberitahu si kakak karena si adik sudah punya hak privasi keluarga di dirinya, apapun yang terjadi pada dirinya maka pasangannya akan ikut terseret bersamanya. Kita juga harus mempertimbangkan hal ini sebelum memberitahukan ke saudara yang lain walaupun atas dasar kepedulian sekalipun!!!

Ketika sudah berkeluarga maka hal baik atau buruk yang tersiar mengenai seseorang akan menimbulkan penilaian pada diri orang tersebut dan pasangannya. Kita kabarkan kepada keluarga kita yang lain bahwa si fulan atau fulanah saudara kita rumah tangganya begini begitu. Tak berhenti di satu orang saja, saat lidah gatal terceplos pula ke saudara yang lain. Saya ingin bertanya itukah yang namanya peduli atau sudah bergunjing jadinya??? Apa manfaatnya bagi kita? Kabar yang kita terima akan memancing komentar pribadi, berkomentar berarti kita sudah menilai, dan penilaian akan melahirkan sikap, dan diantara sekian sikap yang kita pilih ada sikap hiprokit di sana.

Saat si fulan atau fulanah mengetahui berita yang tersebar tentang keluarga mereka ada yang santai tetapi ada yang tersinggung juga. Wajarkah dia tersinggung? bagi saya wajar karena tidak berhak kita sibuk mengurusi dan membicarakan keburukan keluarga orang lain. Karena hal itu adalah perusak silaturahmi dan juga menjadi bibit yang kita tanamkan pada keluarga kita untuk suka bergunjing dan mencari-cari kesalahan orang lain.

Peduli??? tunggu dulu! lagi-lagi ini peduli atau cuma bergunjing??? ….

Sumber gambar: disini

Menikah Itu Pun Ujian Hidup

menikah

menikah adalah salah satu ujian kehidupan

Menikah adalah salah satu agenda hidup yang diidam-idamkan manusia normal. Entah itu ingin disegerakan atau ditunda sampai dirasa waktunya sudah tepat dan mapan. Kita sudah banyak tahu lah ya tentang indahnya pernikahan, penyempurna din kita, penyelamat syahwat kita, sumber pahala kebaikan yang berlimpah.

Menikah pun bisa menjadi ujian, menjadi fitnah bagi kita. Hal ini  menjadi penyeimbang bagi kita, agar tidak terlalu bahagia sehingga kurang mawas diri. Bagi saya menikah itu sama dengan menerima amanah jabatan tertentu. Jika seseorang menangis ketika diamanahi sebuah jabatan karena takutnya ia dengan pertanggungjawabannya kelak. Maka ketika ia menikah, seharusnya ia menangis lebih keras lagi.

Menikah adalah penyatuan dua jadwal hidup, sehingga harus merancang ulang lagi aktifitas kita sehari-hari agar tidak bentrok dengan pasangan. Jadilah kita yang ketika masih lajang bisa beribadah selama dan semau kita, sudah tidak bisa lagi begitu di saat menikah. Sehingga pada awal menikah ada toleransi ibadah yang harus kita lakukan sampai mencapai kondisi yang pas di hati kita pun tidak memberatkan pasangan.

Sebelum menikah (ini khusus berbicara pada perempuan), mungkin calon suami sudah terbiasa bangun sendiri, beribadah tanpa harus diingatkan. Maka ketika menikah jangan diharap akan selalu begitu. Mereka pun sama rasa dengan kita, sudah bertambah job baru jadi energi yang dikeluarkan jadi double. Sehingga tanggung jawab kita salah satunya adalah membangunkan suami, mengingatkan dia akan ibadah rutin dan itu baiknya kita jadikan sebuah keharusan.

Jika si istri malas bangun, malas beribadah, atau rusak imannya akan berimbas pula pada suaminya. Tak percaya? silahkan coba saja sendiri ya :). Itulah makanya di dalam Al-Quran istri juga dikategorikan sebagai fitnah. Mungkin sudah pernah kita mendengar suami rela meninggalkan shalatnya karena istri memeras duit suaminya setiap hari. Demi mengejar lembaran rupiah, ia rela tumpulkan imannya. Na’udzubillah sebegitu dahsyatnya fitnah seorang istri.

Suami pun bisa menjadi fitnah bagi para istri. Saya pernah mendengar cerita seorang suami yang menyuruh istrinya mendatangi dukun untuk meminta uang banyak. Sungguh suami yang tega sekali. Mendatangi dukun… bukankah shalat tak diterima 40 hari? Si istri mau saja melakukannya demi menyenangkan suami yang pemaksa, padahal si istri jebolan pesantren. Subhanallah.

Menikah itu ya ibadah pun bisa menjadi fitnah dunia. Karena itu berhati-hati memilih pasangan itu amat sangat penting. Yang paling utama adalah melihat pemahaman dan pengamalan agamanya. Itulah yang terpenting. Ini berlaku untuk calon suami dan istri. Oo… walaupun ada cela, ada kemauan yang kuat untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Itu juga yang utama.

Jadi di saat kita berbangga sudah menikah, ingatkan diri akankah iman kita, ibadah kita akan tetap terjaga baik, Alhamdulillah kalau meningkat bagaimana kalau terjun bebas grafiknya. Apalagi nanti kalau sudah memiliki anak, akankah dapat kita jaga dengan baik pula ibadah kita. Kita mengharapkan keberkahan dalam pernikahan kita. mengharapkan keberkahan yang datang dari pasangan dan keturunan kita. Semoga Allah melimpahkan pernikahan yang berkah pada kita. Amin ya robbal’alamin.

Tak Usah Dibesar-Besarkan

informasi

tahan diri dari membesar-besarkan masalah

Mari sejenak kita merenung pada satu hal ini saja yakni membesar-besarkan masalah. Sudah biasa hal ini dikaitkan dengan kabar buruk. Tetapi yang saya maksud bukan itu, sebaliknya yang saya maksud di sini adalah kabar baik, lebih tepatnya tentang pasangan hidup.

Urusan jodoh adalah urusan yang sensitif. Ada sekian banyak urusan di dunia ini tetapi seringkali yang membuat seseorang menjadi hilang kestabilannya adalah ketika berurusan dengan pencarian atau penemuan jodoh. Walaupun sudah dikata bahwa jodoh itu di tangan Tuhan tetap saja urusan yang satu ini spesial untuk dihadapi.

Saya ingin mengkritisi tentang orang-orang yang sudah bertemu pasangan hidupnya yang agak kurang menenggang menurut saya dengan mereka yang masih belum. Tipikal orang-orang yang heboh dan membesar-besarkan momen disandingkan dengan pasangan hidupnya. Menyebar foto-foto atau status mesra di publik. Sekali, dua kali cukup wajarlah ya, kan khabar gembira selayaknya memang diumumkan sebagai bentuk syukur akan ni’mat Allah. Maka lain soal kalau keseringan. Seolah-olah jadinya mengejek orang-orang yang masih belum berjodoh. Jika ada yang beralasan ‘aah salah sendiri kenapa hatinya kotor, makanya kesal dengan kebahagiaan orang lain’. Mari saya ingatkan kembali tentang perkara jodoh merupakan perusak kestabilan seseorang yang normal butuh pasangan hidup. Ada kalanya saat hatinya melemah, rasa sedih mungkin sebal pun muncul. Sosial media memang terserah kita untuk diapakan, pun bagi mereka juga begitu. Dan ternyata khabar baik yang semestinya menjadi pengumpul do’a kebaikan bagi kita, berubah jadi pengumpul sejumlah celaan dan kutukan karena salah kita sendiri yang terlalu membesar-besarkan masalah kebahagiaan.

Nah, begitu pula saat sudah dikaruniai anak. Memang sih niat kita baik untuk menyebarkan lagi-lagi khabar baik, ni’mat yang Allah beri. Lagi-lagi tak usah terlalu dibesar-besarkan. Jika ingin mengabarkan kepada pasangan kita ataukah mertua ataukah famili lainnya yang takdir Allah harus berpisah jauh dari kita, alangkah baiknya lewat pesan pribadi dan sudah banyak fasilitas demikian di berbagai sosial media. Ada hati-hati orang yang kita jaga. Ada kalanya orang-orang membuka ‘beranda’ sosial media mereka berharap mendapat kesejukan, pelepas penat. Anggap saja seperti di dunia nyata, orang duduk-duduk di beranda rumah mereka setelah seharian letih bekerja kemudian kita datang memamerkan apa-apa saja yang kita punya. Satu kali, dua kali, sampai batas sabar masih belum masalah. Berkian kali, mungkin usiran dari mereka yang kita terima. Bayangkan sendiri, itu pula yang terjadi di ‘beranda’ sosial media.

Akhir cerita, memanglah sederhana itu dibutuhkan, sikap pertengahan mestinya menjadi keharusan. Tak perlu membesar-besarkan perkara yang buruk pun yang baik. Kita memohon petunjuk Allah semoga senantiasa kita dituntun untuk tidak bersikap berlebihan dan menjadi ummat Rasulullah yang pertengahan. Rabbanaghfirlanaa dzunuubanaa wa isrofanaa fii amrina wa tsabbit aqdamanaa wa tawaffanaa muslimin. Amin.