Keputusan

Ada jeda dalam hidup yang kita butuhkan tetapi tidak boleh terlalu lama. Harus segera kembali mengambil segala resiko dari pilihan hidup atau cita-cita yang telah kita sematkan di langit impian.

Saya pun harus begitu.

Pergi dan tak akan kembali.

Sampai hari ini saya masih candu dengan masa lalu. Dan parahnya masa lalu membuat kita terlalu lama berada di posisi jeda. Seolah kita tak butuh dan tak kekurangan waktu. Kita disibukkan memutar balik jarum jam untuk menikmati rasa dari tiap detik dan tiap menit yang telah lalu. Menghirup kembali aroma-aroma khas di setiap kenangan dan raut-raut wajah yang berseliweran tak henti.

Andai saja hidup ini bisa dijalani dan diputar sesuka hati.

Keputusan di tengah basahnya sore hari ini, mungkin tidak ada salahnya ‘tuk tinggalkan jeda.

Menjadi manusia baru yang utuh.

Menjadi sosok baru yang teguh.

Suatu masa di masa lalu, ada kebodohan masa muda yang tak jua lupa. Tapi selamanya dalam kebodohan adalah kematian yang sungguh iba.

Rabb… hamba ikhlas dan hamba akui segala keteledoran hamba di masa lalu. Ya Rabb… bantu hamba untuk maju. Untuk menjadi hamba-Mu yang Engkau ridhoi dan senantiasa Engkau teguhkan dalam kebenaran. Amin

Nb: Takdir hidup itu sungguh tak kuasanya diri kita untuk mencelupkan tangan atasnya. Tetapi dengan segala kondisi dan keterbatasan hari ini yang sedang kita jalani, janganlah berhenti berjuang untuk menjadi hamba yang lebih baik. Hari ini haruslah lebih baik dari hari kemarin. Sebuah kalimat yang ringan tapi sungguh berat untuk diperjuangkan, apalagi dibiasakan.

Menikah Itu Pun Ujian Hidup

menikah

menikah adalah salah satu ujian kehidupan

Menikah adalah salah satu agenda hidup yang diidam-idamkan manusia normal. Entah itu ingin disegerakan atau ditunda sampai dirasa waktunya sudah tepat dan mapan. Kita sudah banyak tahu lah ya tentang indahnya pernikahan, penyempurna din kita, penyelamat syahwat kita, sumber pahala kebaikan yang berlimpah.

Menikah pun bisa menjadi ujian, menjadi fitnah bagi kita. Hal ini  menjadi penyeimbang bagi kita, agar tidak terlalu bahagia sehingga kurang mawas diri. Bagi saya menikah itu sama dengan menerima amanah jabatan tertentu. Jika seseorang menangis ketika diamanahi sebuah jabatan karena takutnya ia dengan pertanggungjawabannya kelak. Maka ketika ia menikah, seharusnya ia menangis lebih keras lagi.

Menikah adalah penyatuan dua jadwal hidup, sehingga harus merancang ulang lagi aktifitas kita sehari-hari agar tidak bentrok dengan pasangan. Jadilah kita yang ketika masih lajang bisa beribadah selama dan semau kita, sudah tidak bisa lagi begitu di saat menikah. Sehingga pada awal menikah ada toleransi ibadah yang harus kita lakukan sampai mencapai kondisi yang pas di hati kita pun tidak memberatkan pasangan.

Sebelum menikah (ini khusus berbicara pada perempuan), mungkin calon suami sudah terbiasa bangun sendiri, beribadah tanpa harus diingatkan. Maka ketika menikah jangan diharap akan selalu begitu. Mereka pun sama rasa dengan kita, sudah bertambah job baru jadi energi yang dikeluarkan jadi double. Sehingga tanggung jawab kita salah satunya adalah membangunkan suami, mengingatkan dia akan ibadah rutin dan itu baiknya kita jadikan sebuah keharusan.

Jika si istri malas bangun, malas beribadah, atau rusak imannya akan berimbas pula pada suaminya. Tak percaya? silahkan coba saja sendiri ya :). Itulah makanya di dalam Al-Quran istri juga dikategorikan sebagai fitnah. Mungkin sudah pernah kita mendengar suami rela meninggalkan shalatnya karena istri memeras duit suaminya setiap hari. Demi mengejar lembaran rupiah, ia rela tumpulkan imannya. Na’udzubillah sebegitu dahsyatnya fitnah seorang istri.

Suami pun bisa menjadi fitnah bagi para istri. Saya pernah mendengar cerita seorang suami yang menyuruh istrinya mendatangi dukun untuk meminta uang banyak. Sungguh suami yang tega sekali. Mendatangi dukun… bukankah shalat tak diterima 40 hari? Si istri mau saja melakukannya demi menyenangkan suami yang pemaksa, padahal si istri jebolan pesantren. Subhanallah.

Menikah itu ya ibadah pun bisa menjadi fitnah dunia. Karena itu berhati-hati memilih pasangan itu amat sangat penting. Yang paling utama adalah melihat pemahaman dan pengamalan agamanya. Itulah yang terpenting. Ini berlaku untuk calon suami dan istri. Oo… walaupun ada cela, ada kemauan yang kuat untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Itu juga yang utama.

Jadi di saat kita berbangga sudah menikah, ingatkan diri akankah iman kita, ibadah kita akan tetap terjaga baik, Alhamdulillah kalau meningkat bagaimana kalau terjun bebas grafiknya. Apalagi nanti kalau sudah memiliki anak, akankah dapat kita jaga dengan baik pula ibadah kita. Kita mengharapkan keberkahan dalam pernikahan kita. mengharapkan keberkahan yang datang dari pasangan dan keturunan kita. Semoga Allah melimpahkan pernikahan yang berkah pada kita. Amin ya robbal’alamin.