Menyampaikan

pengertian-pengumuman-cara-menyampaikan-serta-jenisnya

Ada seni tersendiri dalam urusan menyampaikan isi hati. Hal itu harus dipelajari terutama bagi kaum yang terpelajar. Kenapa? Karena kaum pelajar memiliki nilai ekspektasi yang sangat tinggi di kehidupan sekitar. Mereka yang tidak beruntung untuk mencicipi pendidikan lebih akan menganggap orang yang mengenyam pendidikan tinggi haruslah benar dalam segala hal dan berkelakuan. Itulah sebabnya lumrah terjadi jika kaum terpelajar melakukan hal yang menyimpang dari segi kehidupan sehari-hari maka ikut terseret pula titel terpelajarnya itu.

Kita kembali pada urusan ‘menyampaikan’ tadi. Sebenarnya seni menyampaikan itu tidak pula banyak didapatkan di bangku formal. Seni menyampaikan sesuatu adalah ilmu yang di dapat dari interaksi sekitar. Alam takambang jadi guru (Alam terkembang jadi guru), begitulah pepatah Minang mengatakan. Orang tua adalah guru pertama yang mengajarkan hal ini. Kita menyalin dari mereka, kita mendengar, bereaksi, kemudian melakukan aksi kepada yang lain.

myampaikan-pendapatl

Setelah itu, lingkungan lah yang berperan penting. Kita belajar dari memperhatikan interaksi orang-orang di sekitar kita, teman sekolah, kawan main, tetangga, orang lalu lalang setiap hari, televisi, bacaan, dan ditambah hal baru yang kekinian: media sosial. Semakin kaya teknik dan trik yang kita miliki, jika dapat yang benar maka akan semakin indah cara penyampaian yang kita miliki.

Seni menyampaikan adalah kepandaian yang harus dimiliki setiap orang, itulah soft skill yang bisa diandalkan untuk memuluskan hubungan sesama. Istri yang pandai menyampaikan isi hatinya dengan benar tidak akan menyinggung perasaan suaminya, keretakan rumah tangga bisa dielakkan, bahkan angka perceraian bisa ditekan jumlahnya. Orang tua yang memiliki seni menyampaikan yang baik akan menularkan komunikasi yang benar dan sehat kepada anak-anak mereka sehingga anak-anak tidak perlu melampiaskannya kepada lingkungan. Guru yang mahir dalam menyampaikan, tak payah harus tegang urat dahinya dalam mendidik anak murid. Atasan dan bawahan yang saling berpandai-pandai lebih mudah mencapai target yang diinginkan. Pemimpin yang paham caranya berbicara benar tidak akan sesumbar tanpa berpikir.

Tak hanya memuluskan hubungan sesama. Seni menyampaikan itu juga diperlukan dalam hubungan vertikal kepada Rabb kita. Ada seni dalam menyampaikan apa yang kita pinta, adukan, harapkan, dan mohonkan. Jelas ilmu agama adalah sumber kita untuk mempelajarinya. Pastikan kita belajar dari sumber yang shahih dan ulama yang terpercaya. Karena aturan-aturannya sudah jelas dan kekal tak boleh diubah.

bfdcef89gw1eyz8yl9k0pj20c707hjs7

Menyampaikan sesuatu… mudah sekali, indera yang dipakai pun lunak. Tetapi jika tak pandai, kurang matang, salah-salah bencana yang datang. Oleh karena itu usaha pencegahan kita mulai dari belajar seni menyampaikan yang benar.

On my desk…

Simpan

Menjelang 27

images

Saya harusnya bagaimana ya menyikapinya? Bentar lagi udah pas 27 tahun hidup. Tapi belum tahu lo ya kalau Allah berkehendak lain. Semoga saja masih ada waktu untuk memperbaiki diri karena saya sangat berdosa.

Di usia segini pertanyaan umum dari kebanyakan orang adalah masalah jodoh, momongan, dan kerjaan. Jodoh, Alhamdulillah sudah ditemukan (ceklis!), momongan-belum punya (tolong jangan bawel nanya kenapa belum juga, situ silahkan tanya yang punya nyawa saya aja ya). Kerjaan, Alhamdulillah ngantor sambil bisnis kuliner (ceklis!). Tidak banyak  yang kami punya tetapi cukup, saya dan suami bahagia apapun kondisi kami saat ini.

Sewaktu kita lajang, kita memiliki mimpi yang hampir jungkir balik dengan kenyataan selepas itu. Kita ingin ini itu tetapi yang terjadi adalah hal yang tak pernah terbayangkan. Setelah menikah saya bersyukur punya banyak kepandaian baru yang rasanya tidak mungkin saya lakukan semasa gadis.

Saya dan suami adalah dua orang dari kutub yang berlawanan dari strata keluarga, pendidikan, dan kepribadian berbeda. Itulah kenapa terkadang saya dan suami terlibat miss komunikasi. Saya banyak belajar peluang berusaha, bersosialisasi dengan berbagai kalangan serta aktualisasi rasa peduli pada orang yang sedang susah dengan arahan suami saya. Sementara suami saya belajar memahami pentingnya kreasi, privasi dan menilai kualitas dari saya.

Dengan bertambahnya usia saya, pendewasaan diri menjadi sangat penting. Pengertian akan perjuangan yang dihadapi suami, cita-citanya, dan impian bersama yang ingin kami capai butuh dukungan penuh. Suami saya selalu memprotes sikap saya yang kadang skeptis, tapi saya hanya ingin realistis. Suami memang tipikal pemimpi yang gigih dan keras pada dirinya sendiri.

Saya tidak terlalu berharap terbang ke negara ini-itu atau mengunjungi tempat yang menarik seperti yang diimpikan saat gadis. Sekarang yang ingin saya lakukan adalah berjuang memudahkan kehidupan orang di sekitar saya. Saya ingin merawat Ummi orang tua kami yang tinggal satu-satunya, memaksimalkan potensi Bannaa adik saya yang autis, membantu keponakan suami, Zaya agar bisa berjalan, mengembangkan lembaga sosial yang sedang diprogram oleh suami saya. Menemukan pesan-pesan terpendam dari dua lemari jati besar dipadati buku-buku warisan Abi, hingga mengembangkan bisnis kami sampai label pedagang bertukar menjadi pengusaha. Amin…

Menjelang 27 tahun, saya ingin kembali berdo’a dan berusaha untuk memaksimalkan potensi yang sudah saya miliki dan membangkitkan potensi yang terpendam. Saya yakin, masih ada kejutan yang sedang mengintip di dalam diri saya menunggu untuk ditemukan. Sebelum usia 40 tahun adalah masa-masa berjibaku membentuk diri. Selepas itu sulit sekali merubahnya seolah sudah dipahat dengan kuat dan dalam. Sekeras apapun memperbaikinya bekas-bekas itu akan tetap terlihat.

 

Menjadi Produktif

berkarya selagi bisa

berkarya selagi bisa

Kita harus menyadari dengan sungguh-sungguh, bahwasanya hidup kita tidak akan cukup untuk memenuhi tugas yang seharusnya kita lakukan. Ingatlah ini, disaat kita merasa bosan dan tidak tentu dengan apa yang hendak dikerjakan. Jangan terpaku hanya pada satu pintu karena kita harus memasuki pintu-pintu yang lainnya. Kecuali, jika kita memilih untuk menjadi orang yang senangnya menganggur atau tipikal yang cepat puas.

Menjadi sosok yang produktif disaat lingkungan pasif memang tidak mudah, akan tetapi menjadi pilihan yang harus dilaksanakan. Mungkin hanya pada saat itulah waktu yang kita miliki untuk belajar lebih banyak hal baru sebelum datangnya masa sibuk yang tak tentu.

Ada banyak dunia baru yang butuh digali. Siapa tahu kita akan menemukan skill yang tak disangka. Ada beberapa sisi yang butuh dioptimasi, menggali lebih dalam dari kemampuan yang kita kira standar… yaaah sekedar biasa saja, ataukah amatir.

Karya… karya… kita butuh karya untuk menjadi berarti sebagai manusia. Karya adalah bukti bahwa kita telah melakukan sesuatu yang berguna, hal baru yang bernilai.

Hidup ini tak cukup dengan satu karya. Apalagi jika karya yang berasal dari peluh kita sendiri itu belum cukup kekal nilainya sampai di akhirat sana. Butuh banyak… dengan itulah akan semakin banyak pula kemungkinan karya yang bernilai tinggi.

Apapun hal baru dan cukup menantang untuk dicoba, lakukanlah dengan seikhlas dan sesenang hati. Bismillah, semoga Allah berkati…

on my desk….

pict: here

Bicara Rasa

Suatu hari. Kita akan menertawakan masa lalu di mana kita begitu naif dengan perasaan kita sendiri. Kita selalu merasa… merasa… dan merasa bahwa kita adalah manusia yang ter- ini atau ter-itu ketika kita merasa sedih. Well, tidak semua karena di bumi ini hanya orang yang terlalu perasa yang berprilaku konyol seperti itu, tak menampik bahwa diriku adakalanya juga begitu.

OZaldpn

                                    kita dan rasa

Obat dari sifat perasa adalah waktu. Waktu yang lambat laun akan membuat rasa menjadi basi dengan beriringan melangkah disisi sang waktu. Jiwa perasa akan menyeret orang lain untuk ikut merasakan hal yang sama dengan yang dialaminya. Mereka akan bertingkah semaunya asalkan ada dukungan yang menguatkan kebenaran versi miliknya. Tetapi waktu tak pernah memihak. Ia tetap berjalan lurus dengan mata yang buta, telinga yang tuli, dan bibir yang bisu. Sehingga pada akhirnya jiwa yang perasa ini hanya akan dibungkam oleh kenyataan semacam logika pahit yang harus ditelan cepat-cepat seperti tablet pereda sakit kepala. Pahit di awal menyembuhkan sesudahnya.

“Perasaan itu tidak akan selamanya sama. Oleh karena itu jangan terlalu perasa. Tidak baik. Berlebihan itu tidak akan pernah baik.”

On my desk…

pict: here

Keputusan

Ada jeda dalam hidup yang kita butuhkan tetapi tidak boleh terlalu lama. Harus segera kembali mengambil segala resiko dari pilihan hidup atau cita-cita yang telah kita sematkan di langit impian.

Saya pun harus begitu.

Pergi dan tak akan kembali.

Sampai hari ini saya masih candu dengan masa lalu. Dan parahnya masa lalu membuat kita terlalu lama berada di posisi jeda. Seolah kita tak butuh dan tak kekurangan waktu. Kita disibukkan memutar balik jarum jam untuk menikmati rasa dari tiap detik dan tiap menit yang telah lalu. Menghirup kembali aroma-aroma khas di setiap kenangan dan raut-raut wajah yang berseliweran tak henti.

Andai saja hidup ini bisa dijalani dan diputar sesuka hati.

Keputusan di tengah basahnya sore hari ini, mungkin tidak ada salahnya ‘tuk tinggalkan jeda.

Menjadi manusia baru yang utuh.

Menjadi sosok baru yang teguh.

Suatu masa di masa lalu, ada kebodohan masa muda yang tak jua lupa. Tapi selamanya dalam kebodohan adalah kematian yang sungguh iba.

Rabb… hamba ikhlas dan hamba akui segala keteledoran hamba di masa lalu. Ya Rabb… bantu hamba untuk maju. Untuk menjadi hamba-Mu yang Engkau ridhoi dan senantiasa Engkau teguhkan dalam kebenaran. Amin

Nb: Takdir hidup itu sungguh tak kuasanya diri kita untuk mencelupkan tangan atasnya. Tetapi dengan segala kondisi dan keterbatasan hari ini yang sedang kita jalani, janganlah berhenti berjuang untuk menjadi hamba yang lebih baik. Hari ini haruslah lebih baik dari hari kemarin. Sebuah kalimat yang ringan tapi sungguh berat untuk diperjuangkan, apalagi dibiasakan.

Berhenti Belajar = Mati!!!

Rasanya kok hidup saya ini begini-begini saja. Bawaannya kalo bangun tidur itu nge-blur abis….. ni hari mau ngapain aja. Rutinitas sehari-hari yang rasanya membosankan ini berdampak buruk sama suami yang sering kena sundut amukan saya. Padahal niat suami ngajakin bercanda buat nunjukin rasa sayang (Maaf ya Bang).

Kalau sudah begini jadi gak enak hati, suami jadinya ngerjain sesuatu serba sendiri demi meDESSNichijou_01v2_1080BDFLACUnderwater-Commie_1B4E90BCmkv_snapshot_0612_20130709_230132_zpsbb7663a8kaichou-wa-maid-sama-ep-24-2-1024x576nenggang istrinya yang lagi ngambek. Alhamdulillah ya Allah suami saya tidak gampang ngambekan seperti saya, kalau kita sesifat ampun sudah perabotan gak pada tahan umurnya sampai seminggu karena udah masuk tong sampah gegara dibantingin jamaah.

Kebosanan ini juga merembet kepada amal yaumiyah. Ya Allah kenapa begini???

Tadi pagi sebelum berangkat kerja saya sempatkan masuk ke ruang shalat. Di dalamnya memang sengaja saya taruh lemari buku. Teringat akan buku self help semasa kuliah yang saya beli saat galau dengan kuliah dan percintaan ecieeeehhh….

ZZZeeeepppp…! Mendadak ada feel yang menelikung hati saya. Ya Allah kapan ya terakhir kali saya sempetin baca buku serius? Kapan terakhir kali saya membaca dengan khusyu’ penuh kehausan akan ilmu? Kapan terakhir kali saya nyetabiloin kalimat di buku dengan warna kuning? Kapan terakhir kali jidat saya melintir mikirin korelasi teori-teori yang saya baca dengan realita? Hikzz sudah lama bingit rasanya jadi gak bisa ingat lagi terakhir kali kapan. Saya jadi merasa malu-maluin di biodata nulisnya hobi membaca. Baca sih ada tapi nyempetin baca berita online sama resep masakan. Yaaah dimana asiknya sebenarnya, karena baca buku atau kitab itu ada ademnya tersendiri.

Saya bertekad pagi ini memulai kembali baca buku rutin tiap hari. Semoga berefek kepada aktifitas harian lainnya jadi kerasa lebih asik. Semoga suami tambah sayang sama istrinya yang udah gak bentar-bentar bad mood. Paling utama sekali adalah semoga tambah semangat menabung amal baik. Niatkan ibadah dan menambah semangat beribadah, Insya Allah.

Menghentikan aktifitas membaca artinya kita tergolong orang yang berhenti belajar dan benarlah bahwStudyingJapaneseKidsAnime-5120-1280x800asanya berhenti belajar sama artinya dengan kematian karena kematian adalah pemutus nikmat belajar. Kematian adalah garis awal dimana kita akan mempertanggungjawabkan apa yang telah kita pelajari semasa hidup.

Ayok yang senasib sama saya pada wake up. Dimulai dari buku yang bikin kamu sumringah bangun di pagi hari. Bacaannya yang positif ya… moga berkah :). Amin…

Lama Vakum

rasanya sudah lama sekali

rasanya sudah lama sekali….

Bismillah.. Rasanya sudah lama sekali vakum dari blog. Baik yang WordPress maupun Blogspot. Saya sangat menyadari bahwa itu murni akibat kemalasan saya dalam menulis. Saya terlalu disibukkan dengan hal-hal baru dalam hidup, hal baru setelah memasuki dunia kerja dan pernikahan, well apakah saya sudah terbiasa sehingga akhirnya saya putuskan kembali untuk menulis??? hmmm tidak juga. Saya pikir ini lebih karena rasa bosan yang menumpuk. Rasa bosan yang disebabkan karena hidup yang dirasa berjalan begitu saja tanpa ada hingar bingar atau semacam euforia yang meletup seperti sebelumnya.

Dunia kerja itu membosankan jika tak ada kejelasan target yang harus dicapai. Belum lagi jika yang dikerjakan disekitar itu melulu yang rasanya tidak membuat otak berkembang. Ah, ada satu hal lagi, deadline adalah hal yang membuat kita produktif ditambah lagi dengan adanya agenda evaluasi yang siap-siap bikin kita babak belur. Bayangkanlah diri kita berada di masa-masa penyelesaian Tugas Akhir. Setiap menit itu harganya mahal, setiap ibadah yang dilakukan adalah penguatan akan ikhtiar. Hidup menjadi begitu dramatis saat kita berhasil menyelesaikannya walaupun harus ngos-ngosan, bertanggang semalaman sampai mata perih dan memelas minta ditidurkan. Ah, indahnya masa itu.

Pernikahan itu membuat lelah jika semua urusan carut marut disebabkan berbagai macam tangan ikutan mengobok-obok air yang diarungi oleh biduk rumah tangga kita, dan saya sadari itu bahwa hari ini masihlah secuil badai, sekilas asap yang menyelusup dalam kehidupan kami. Kian hari kian lebih apalagi kalau kami ingin maju, maunya lebih baik lagi.

Saya pun mulai sadar bahwa perangai negatif kita, kebiasaaan buruk kita, sedini apapun itu harus segera dibabat. Mana ada amanah yang akan bertambah ringan? Semakin bertambahnya usia maka amanah pun bertambah ceklisnya satu per satu , sekuat apapun kita menolaknya yah bahkan berpura-pura tidak menyadari pun tetap amanah itu akan menimpuki kepala kita. Kondisi dimana diri tak siap menerima itulah racun diri. Pelan-pelan merayap dan mencekik kita sampai kesulitan bernapas.

Manusia itu bebal, dapat dirasakan saat momen-momen tertentu yang kau lewati dalam hidup. Tak kan ku bilang kawan seperti apakah bebal itu, karena bisa dirasakan sendiri tak usah payah tuk diucap. Sejauh mana bebalmu maka sejauh itu pula usahamu harus diperkeras.

Hmmm… lega sudah… setidaknya meracik kata-kata seperti menenggak herbal pahit tapi menyembuhkan. Tulisan mungkin tak selaras dengan perilaku kita, tetapi dengan menulis… mungkin saat itu nurani kita mengambil peran membiarkan kebebalan kita tak sadarkan diri sesaat.

#lostInTime

pict: here