Menjelang 27

images

Saya harusnya bagaimana ya menyikapinya? Bentar lagi udah pas 27 tahun hidup. Tapi belum tahu lo ya kalau Allah berkehendak lain. Semoga saja masih ada waktu untuk memperbaiki diri karena saya sangat berdosa.

Di usia segini pertanyaan umum dari kebanyakan orang adalah masalah jodoh, momongan, dan kerjaan. Jodoh, Alhamdulillah sudah ditemukan (ceklis!), momongan-belum punya (tolong jangan bawel nanya kenapa belum juga, situ silahkan tanya yang punya nyawa saya aja ya). Kerjaan, Alhamdulillah ngantor sambil bisnis kuliner (ceklis!). Tidak banyakĀ  yang kami punya tetapi cukup, saya dan suami bahagia apapun kondisi kami saat ini.

Sewaktu kita lajang, kita memiliki mimpi yang hampir jungkir balik dengan kenyataan selepas itu. Kita ingin ini itu tetapi yang terjadi adalah hal yang tak pernah terbayangkan. Setelah menikah saya bersyukur punya banyak kepandaian baru yang rasanya tidak mungkin saya lakukan semasa gadis.

Saya dan suami adalah dua orang dari kutub yang berlawanan dari strata keluarga, pendidikan, dan kepribadian berbeda. Itulah kenapa terkadang saya dan suami terlibat miss komunikasi. Saya banyak belajar peluang berusaha, bersosialisasi dengan berbagai kalangan serta aktualisasi rasa peduli pada orang yang sedang susah dengan arahan suami saya. Sementara suami saya belajar memahami pentingnya kreasi, privasi dan menilai kualitas dari saya.

Dengan bertambahnya usia saya, pendewasaan diri menjadi sangat penting. Pengertian akan perjuangan yang dihadapi suami, cita-citanya, dan impian bersama yang ingin kami capai butuh dukungan penuh. Suami saya selalu memprotes sikap saya yang kadang skeptis, tapi saya hanya ingin realistis. Suami memang tipikal pemimpi yang gigih dan keras pada dirinya sendiri.

Saya tidak terlalu berharap terbang ke negara ini-itu atau mengunjungi tempat yang menarik seperti yang diimpikan saat gadis. Sekarang yang ingin saya lakukan adalah berjuang memudahkan kehidupan orang di sekitar saya. Saya ingin merawat Ummi orang tua kami yang tinggal satu-satunya, memaksimalkan potensi Bannaa adik saya yang autis, membantu keponakan suami, Zaya agar bisa berjalan, mengembangkan lembaga sosial yang sedang diprogram oleh suami saya. Menemukan pesan-pesan terpendam dari dua lemari jati besar dipadati buku-buku warisan Abi, hingga mengembangkan bisnis kami sampai label pedagang bertukar menjadi pengusaha. Amin…

Menjelang 27 tahun, saya ingin kembali berdo’a dan berusaha untuk memaksimalkan potensi yang sudah saya miliki dan membangkitkan potensi yang terpendam. Saya yakin, masih ada kejutan yang sedang mengintip di dalam diri saya menunggu untuk ditemukan. Sebelum usia 40 tahun adalah masa-masa berjibaku membentuk diri. Selepas itu sulit sekali merubahnya seolah sudah dipahat dengan kuat dan dalam. Sekeras apapun memperbaikinya bekas-bekas itu akan tetap terlihat.

 

Call Me Mrs.Dhee [1]

Tiba-tiba pingin nge-alay di blog pribadi. Rasanya isi blog saya ini kok kebanyakan sendunya, Tidak bermaksud sih sebenarnya tapi kalo lagi sendu itu kok ya bawaannya kepingin tulis ini itu. Tapi sekarang saya lagi nulis dalam keadaan happy kok.

Sejak 1 tahun yang lalu saya tidak akan melihat lagi tulisan Miss kalo pesen tiket pesawat. Pastinya Mrs dong. Sudah melewati pernikahan 1 tahun and still counting…yeeey… Momongan? Masih belum, Yah rezekinya emang belum kali ya. Banyak teori ini itu sih dari orang sekitar perihal perut saya yang belum buncit juga (padahal dari dulu juga udah buncit huahahaha). Tapi saya dan Abang masih santai aja selain tetep usaha, Toh ada sekian jumlahnya pasangan yang belum juga punya keturunan setelah menikah sekian lama, padahal kondisi kedua nya baik-baik aja tuh (subur). Diambil positifnya aja, mungkin Allah belum kasih karena ada yang harus kami kerjakan dulu sebelum kami punya anak kemudian kami sibuk ngurus diri sendiri.

Setidaknya masih bersyukur udah dikasih keponakan yang lucu satu, si Mumu. Jadi ibu-ibu itu syeeep abis dah. Kalo liat bebinya sih lucu gemesyin tapi coba liatin emaknya, trenyuh! Belajar dari liatin adik sendiri gimana perjuangan jadi ibu baru. Moga saya tetep bisa jadi ibu yang sholihah cerdas ceria dan muda selalu. Amin.

Setelah menikah. Saya bingung sendiri mendadak pinter masak. Orang dulunya goreng ayam aja pake helm sama sarung, saking takut kena letusan minyak panas. Nnaah kalo sekarang jangan salahkan saya jika si Abang kalo dimasakin makannya suka nambah muluk. Sendirinya aja yang emang doyan makan wakwakwakwak. Seperti pagi ini nyobain menu Samba Lado Tanak Mudo, seumur-umur baru kali ini lowwh bikin.

Abang: “Dek, samba lah masak?” (Dek, lauknya udah mateng?)

Adek: “Alah Bang!” (Udah Bang)

Abang: “Abang makan dulu yo, litak na paruik Abang” (Abang makan duluan ya udah laper banget perut Abang)

Adek: “Jadih” (OK)

Bismillah…aaamm nyam nyam nyam

Adek: “Baaang baa rasonyo!!” (Baaang gimana rasanya!)

Abang: “MANTAP!!!”

Yiiiihaaaaa…selebrasi goyang Sambal Lado. Yeaaah it’s me, Mrs. Dhee šŸ˜‰

(bersambung)

Menang-Menang

Capture

Kita telah menjadi pemenang, akhirnya…

Kita tidak akan tahu dengan siapa kita akan berjodoh. Namun, kita tidak bisa pula menepis perasaan kepada seseorang yang datang menghampiri kita. Itulah hidup… mencintai… dicintai… senantiasa berputar sedemikian. Saya pun pernah begitu menyukai seseorang, saya berjuang dengan perasaan itu. Dan akhirnya saya menyadari tidak menemukan kebahagiaan dan balasan yang sama.

Ada saat dimana saya begitu marah dengan orang yang saya sukai karena merasa dia berhati dingin dan kurang lelaki. Saya sering menangis beriringan dengan hujan, pikiran saya berkabut dan saya merasa menjadi orang yang paling bebal sedunia. Saya merasa rendah diri karena tidak seperti saingan saya yang lain, tapi entah kenapa saya tetap kukuh melawan pertanda dari langit.

Tiap langkah yang mendekatkan saya kepadanya selalu diselingi sayatan di hati. Saya berusaha sabar dan optimis, kebahagiaan akan datang pada akhirnya. Namun tak semudah di angan. Nyatanya, pikiran dibuatnya lebih kacau, hati tak tenang, selalu dicemaskan dengan hal yang remeh-temeh. Kenapa mencintai begitu menyakitkan??? Saya putuskan pada akhirnya menerima bisikan langit.

Walaupun berat, saya palingkan hati yang sudah dipenuhi oleh namanya. Saya hapus paksa dengan air mata. Kadang disaat percik api terpantik di hati saya, ada bara kebencian memerah yang kemudian meredup melingkupi bayangannya. Saat dimana memori kelabu berarak diingatan ini. Untuk sesaat kan saya biarkan toh pada akhirnya desiran maaf yang halus memadamkan bara itu kembali.

Malam-malam yang dulu begitu menyiksa dirubung tanya, “Akankah saya bertemu dia besok pagi?”, “Bagaimanakah reaksi dia saat pertemuan kami, biasa sajakah atau menikmatinya?”, “Apakah kami bisa bercakap lebih lama dari sebelumnya ?” Kini… tidak akan pernah ada lagi. Dia sudah tergantikan dengan sosok baru yang saya pun tidak percaya bisa mencintainya dengan mudahnya. Saya lega, tidak harus melulu bersikap sok kuat dan berwajah tidak terluka.broken-heart-qoutes-broken-hearts-31855169-489-318

Dari dulu saya ingin ditanya, apakah saya tidak apa-apa?, adakah yang sakit?, tetapi dulu saya menganggap itulah kelemahan wanita yang menyebalkan, nyatanya itu memang bawaan kejiwaan Hawa. Saya luangkan waktu sekian menit untuk menulis ini karena terkait dengan dia di masa lampau. Kabar telah tersiar, dia telah menikah dengan seorang wanita baik-baik. Semoga berkah Ilahi meliputi mempelai.

Walaupun ada dengking teredam di hati saya. Yah… anggaplah semacam godaan Iblis untuk mengesalkan saya kenapa kita tidak satu padahal dulu kita sempat punya kebersamaan yang bisa dikata menyenangkan. Hadir pula tiupan suara mengejekĀ  dan mencibir bahwa saya telah kalah sedangkan dia telah menjadi seorang pemenang.

Tapi… kita dicipta bukan ‘tuk bersama karena takdir sudah tersurat sebelum denyut nadi pertama. Sebenarnya perasaan tentang dia tak lagi pantas dikenang. Karna yang terlahir hanyalah perasaan sedih dan bodoh. Kadang rasanya gatal ingin tahu bagaimana kabarnya setelah sekian lama tanpa temu… tanpa sapa… tanpa tanya…

Ah… ternyata butuh waktu sedikit lama untuk lupa…Natalie-and-Asher-wedding-silhouette-272x300

Sekarang, saya sudah memiliki cerita baru dalam hidup, lembaran kosong yang mungkin pernah direncanakan untuk menuliskan namanya di masa depan tapi… ada nama lain saat ini yang diamanahkan pada saya. Jemari ini telah direkatkan oleh Tuhan dijemari yang lebih baik dan nyata. Saya dan dia (yang di masa lalu) sebenarnya telah berdiri di posisi menang-menang. Kami telah menduduki takdir kami masing-masing, tinggal pilihan berikutnya yang akan menentukan kami akan tetap bahagia atau sebaliknya.

Sekali lagi ‘Selamat’ untuk kedua mempelai. Barokallahulakuma.

Pict: 1, 2, & 3

Lama Vakum

rasanya sudah lama sekali

rasanya sudah lama sekali….

Bismillah.. Rasanya sudah lama sekali vakum dari blog. Baik yang WordPress maupun Blogspot. Saya sangat menyadari bahwa itu murni akibat kemalasan saya dalam menulis. Saya terlalu disibukkan dengan hal-hal baru dalam hidup, hal baru setelah memasuki dunia kerja dan pernikahan, well apakah saya sudah terbiasa sehingga akhirnya saya putuskan kembali untuk menulis??? hmmm tidak juga. Saya pikir ini lebih karena rasa bosan yang menumpuk. Rasa bosan yang disebabkan karena hidup yang dirasa berjalan begitu saja tanpa ada hingar bingar atau semacam euforia yang meletup seperti sebelumnya.

Dunia kerja itu membosankan jika tak ada kejelasan target yang harus dicapai. Belum lagi jika yang dikerjakan disekitar itu melulu yang rasanya tidak membuat otak berkembang. Ah, ada satu hal lagi, deadline adalah hal yang membuat kita produktif ditambah lagi dengan adanya agenda evaluasi yang siap-siap bikin kita babak belur. Bayangkanlah diri kita berada di masa-masa penyelesaian Tugas Akhir. Setiap menit itu harganya mahal, setiap ibadah yang dilakukan adalah penguatan akan ikhtiar. Hidup menjadi begitu dramatis saat kita berhasil menyelesaikannya walaupun harus ngos-ngosan, bertanggang semalaman sampai mata perih dan memelas minta ditidurkan. Ah, indahnya masa itu.

Pernikahan itu membuat lelah jika semua urusan carut marut disebabkan berbagai macam tangan ikutan mengobok-obok air yang diarungi oleh biduk rumah tangga kita, dan saya sadari itu bahwa hari ini masihlah secuil badai, sekilas asap yang menyelusup dalam kehidupan kami. Kian hari kian lebih apalagi kalau kami ingin maju, maunya lebih baik lagi.

Saya pun mulai sadar bahwa perangai negatif kita, kebiasaaan buruk kita, sedini apapun itu harus segera dibabat. Mana ada amanah yang akan bertambah ringan? Semakin bertambahnya usia maka amanah pun bertambah ceklisnya satu per satu , sekuat apapun kita menolaknya yah bahkan berpura-pura tidak menyadari pun tetap amanah itu akan menimpuki kepala kita. Kondisi dimana diri tak siap menerima itulah racun diri. Pelan-pelan merayap dan mencekik kita sampai kesulitan bernapas.

Manusia itu bebal, dapat dirasakan saat momen-momen tertentu yang kau lewati dalam hidup. Tak kan ku bilang kawan seperti apakah bebal itu, karena bisa dirasakan sendiri tak usah payah tuk diucap. Sejauh mana bebalmu maka sejauh itu pula usahamu harus diperkeras.

Hmmm… lega sudah… setidaknya meracik kata-kata seperti menenggak herbal pahit tapi menyembuhkan. Tulisan mungkin tak selaras dengan perilaku kita, tetapi dengan menulis… mungkin saat itu nurani kita mengambil peran membiarkan kebebalan kita tak sadarkan diri sesaat.

#lostInTime

pict: here

Satu-Satu

satu-satu

satu-satu

Sudah lama saya tidak lagi meluangkan waktu untuk sekedar menceritakan hal yang menurut saya layak untuk dibagikan. Satu-satu terlewati sudah pos-pos kecil dalam hidup saya. Jika dulu blog ini berisikan tentang bagaimana galaunya perasaan saya demi memperjuangkan perasaan, kini, saya sudah menjadi pemenang di hati seseorang šŸ™‚ (dan saya putuskan, ada baiknya menghapus hal buruk yang membuat saya terkenang-kenang bimbang). Ada banyak cerita yang ingin saya tulis, tetapi rasanya saya tidak mau lagi berkeluh kesah di blog ini. Niat saya, blog ini akan menjadi wadah untuk berbagi ilmu dan kebaikan, walaupun saya ini banyak sekali kesalahannya, karena kasih sayang Allah lah hampir tidak banyak yang mengetahui satu-satu khilaf apa saja yang telah saya buat.

Detik-detik berdetak melingkari 1 putaran 24 jam. Saya hampir menyelesaikan Tugas Akhir. Semakin dekat pula dengan hari penentuan pernikahan saya dengan laki-laki itu. Kapan-kapanlah saya ceritakan, bagaimana akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan hidup ini berdua. Mengamalkan sunnah nabi, membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah, pun ingin sedikit berani menjadikannya sebagai ladang dakwah bagi kami yang rasanya masih secuil mengerti ilmu agama, apalagi mengamalkannya.

Satu-satu melangkah, menatah diri yang terbiasa manja untuk berjalan tanpa menyender ke belakang, rebah ke kanan, mencong ke kiri, atau tersungkur ke depan. Jalan tegak, menatap lurus ke depan, memiliki visi misi hidup yang jelas. Langkah yang pasti menjadi perempuan yang mandiri, belajar menjadi istri dan ibu bagi keturunan kelak. Seolah gampang tapi saya yakin satu-satu urat pikir pun pasti tegang. Sekuat usaha melakoni sabar dan syukur yang mudah diucap tak nikmat dikecap.

source pict: here

Tidak Sempurna

that i still have to move on

that i still have to move on

Pada diri ini yang tidak sempurna, saya mulai menyulam kembali sulur-sulur impian yang berserak setelah tak dihiraukan sekian lama. I have to fight back to get my dreams. Meminta dan akan terus meminta agar dikuatkan oleh yang Maha Perkasa agar tidak lagi merengek dan mengadu kepada selain-Nya. Meminta untuk dapat menguatkan diri tanpa harus bergelayut di lengan orang lain. Saya perempuan oleh karena itu saya harus kuat, sekedar anekdot bagaimana mungkin surga diletakkan di bawah telapak kaki saya jika saya tak kuat dan tak siap menampungnya.

Pada diri ini yang tidak sempurna, akan terus datang gelombang, ombak besar ataukah badai nantinya demi kesuksesan yang saya cita-cita kan, dan saya sungguh seorang yang penakut. Tapi ada yang berbagi wejangan jika ingin berani mulailah untuk pura-pura berani, walau selalu diserbu perasaan gentar, cemas, harap, kadang pesimis dan berangan yang jauh, tidak ada kata lain selain menepuk dada untuk memompakan semangat pada jantung untuk berdetak lebih kencang, berdegup lebih keras agar seluruh tubuh lebih hidup.

Pada diri ini yang tidak sempurna, dan benarlah diri ini pun masih naif. Jika boleh berhitung tak banyak yang bisa saya lakukan, tapi tetap harus dilonggarkan hati, berdo’a pada yang Maha PengasihĀ  agar mengilhamkanĀ  hal tersembunyi yang mampu saya perjuangkan.Ā  Isi kepala ini tak banyak , isi hati mungkin berlebih karena saya adalah perempuan yang begitu perasa apalagi dengan seringnya merasakan kegagalan. Tapi tidak, tidak boleh saya berhenti, karena itulah saya masih tetap mau berdiri menjalani takdir walaupun harus melangkahi dulu pada batu-batu yang licinĀ  sehingga saya lebih sering terpeleset dibandingkan berjalan dengan lurus dan benar.

Pada diri ini yang tidak sempurna, saya harus tabah dan terima dengan segala kritikan, saran, bentakan, umpatan, cacian, repetan dari orang yang lebih sempurna, dari tetua yang sudah panjang pengalaman, dari kolega yang lebih banyak berkorban dan bekerja dibandingkan saya. Bismillah, saya sadari saya tidak sempurna dan akan saya selesaikan sisa lembaran hidup ini dengan ketidaksempurnaan yang saya miliki, hasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’man nashir.

Sumber gambar: di sini